Senin, 02 April 2012

Yang Mulai Terlupakan "Tut Wuri Handayani"

ketika mendengar kata ini "Tut Wuri Handayani" saya teringat ketika masa masa Sekolah Dasar yang saya alami,, pada topi merah itu tertulis lah kata demikian.

sekitar tahun 1999 saya masuk ke jenjang Sekolah Dasar, ma'lum saja saya kelahiran tahun 1993, ketika masuk SD mulailah saya dikenalkan topi ini oleh nenek saya. lhoo kok sama nenek ? pastinya anda berpikiran seperti itu. ketika itu orang tua saya sedang sibuk bekerja dikota Jakarta.

kini masa masa itu mulai terlupakan, ma'lum saja kini saya duduk dibangku kuliah, pada salah satu universitas swasta di daerah Kuningan Jabar.

tergugah hati saya untuk membuat artikel tentang ini.


Tut Wuri Handayani ?? konsep ini berasal dari Ki Hajar Dewantara seorang pakar pendidikan Indonesia, pendiri perguruan Taman Siswa. Jika konsep Ki Hajar Dewantara ini memang dapat kita masukan sebagai aliran pendidikan, bagaimana pandangan aliran ini terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dalam hubungannya dengan masalah pembawaan dan lingkungan ?

agar pertanyaan tadi terjawab dengan jelas, perlu kiranya dikaji terlebih dahulu apa arti kata itu, baik secara tersurat maupun tersirat.

Tut Wuri Handayani berasal dari bahasa Jawa (Java Language) Tut Wuri berarti mengikuti dari belakang dan handayani berarti mendorong, memotivasi, atau membangkitkan semangat. dari pengertian tersbut bahwa jelas bahwa aliran ini mengakui adanya pembawaan, bakat, ataupun potensi potensi pada anak sejak dilahirkan.

dengan adanya kata Tut Wuri berarti sipendidik diharapkan dapat melihat, menemukan, dan memahami bakat atau potensi yang terdapat pada anak tersebut untuk selajutnya dikembangkan dengan memberikan motivasi atau dorongan ke arah pertumbuhan yang sewajarnya (Handayani).

Tut Wuri Handayani lebih mirip / mendekat dengan aliran/paham/hukum konvergensi dari William Stern, yang berpendapat bahwa perkembangan anak/manusia ditentukan oleh bagaimana interaksi antar pembawaan ataupun potensi potensi yang dimiliki anak yang bersangkutan dan lingkungan ataupun pendidikan yang mempengaruhi anak dalam perkembangannya. dengan kata lain, sifat-sifat dan ciri anak dalam perkembangannya ada yang ditentukan oleh pembawaannya dan ada pula yang ditentukan oleh lingkungannya, bergantung kepada mana yang lebih dominan dalam interaksi keduannya.

Tut Wuri Handayani merupakan bagian dari konsep kependidikan Ki Hajar Dewantara yang secara keseluruhan berbunyi

Ing Ngarso ung Tulodo

Ing Madyo Mangun Karso

Tut Wuri Handayani


Ing Ngarso Sung Tulodo artinya jika pendidik sedang berada "didepan" maka hendaklah memberi contoh teladan yang baik terhadap anak didiknya. Ing Ngarso adalah Di Depan ; sung adalah memberi ; Tulodo adalah Tauladan

Ing Mandyo Mangun Karso berarti jika pendidik sedang berada di "tengah tengah" hendaklah ia mendorong kemauan atau kehendak mereka, membangkitkan hasrat mereka untuk berinisiatif dan bertindak. Ing Madyo = ditengah ; mangun = membangun, menimbulkan dorongan ; karso = kehendak / keinginan, kemauan.

Ditambah dengan Tut Wuri Handayani yang telah diuraikan terlebih dahulu, maka ketiga tiganya merupakan uatu kesatuan yang utuh.

konsep ini Ki Hajar Dewantara ini ternyata tidak hanya berlaku dalam dunia pendidikan, tetapi lebih luas lagi dijadikan semboyan untuk dipedomani dalam melaksanakan kepemimpinan masyarakat dan negara, yang terkenal sebutan kepemimpinan pancasila.


luar biasa memang arti apa yang di kemukakan oleh bapak pendidikan kita, tetapi sekarang, kalimat yang luar biasa ini mulai terlupakan di kalangan masyarakat kita, khususnya pada generasi muda, lebih ironis lagi ada seorang guru/ calon guru (bagi para mahasiswa Pendidikan) ketika ditanya hal diatas, mereka simple aja menjawab "kurang tahu".

ini menjadi beban kita semua, membangun rumah yang megah pun akan runtuh ketika tidak memiliki Fondasi yang kuat. begitu pula dengan pendidikan, ini merupakan dasar bagi kita semua, bagaimana mencipatakan "manusia seutuhnya" dapat terlakana ketiaka dalam kondisi yang seperti ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar